Untuk melakukan abstraksi tentang bumi, yang pertama kita lakukan adalah mengambil jarak dari bumi. Dari itu, kita mendapatkan sebuah abstraksi. Kemudian abstraksi tersebut kita gunakan atau kita kembalikan lagi untuk menerjemahkan bumi. Hal itu dapat kita lakukan karena bumi bergerak dalam ruang dan waktu.
Sebagai contoh sebuah titik. Titik bisa juga objek di dalam pikiran yang jika dia dikaitkan dengan ruang dan waktu maka titik menjadi potensi sekaligus faktanya. Jika diberikan kesadaranku maka titik tersebut akan mempunyai makna , misalnya titik mewakili seseorang, titik mewakili sebidang tanah, titik mewakili sebuah kota dan sebagainya. Dan jika titik diberikan abstraksi maka titik bias menjadi lingkaran, menjadi titik pangkal, dapat pula menjadi bangun datar.
Namun, satu titik saja tidak cukup untuk mewakili bumi maka diperlukan titik lain sebagai penghubung. Selain itu, untuk dapat menerjemahkan bumi kita dapat menggunakan sebuah analogi.
Akan tetapi analogi tersebut hanya setengah dari apa yang kita butuhkan untuk menerjemahkan bumi karena analogi tersebut masih berada dalam pikiran dan yang setengahnya lagi adalah fakta yang ada.
Salah satu faktanya, dalam masyarakat jawa ada ritual ruwat. Ritual ruwat dilakukan untuk menghindari masalah. Di dalam filsafat, ritual ruwat adalah penjelasan. Jadi jika bermasalah maka diperlukan penjelasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar